Mentoring Koordinator YLSA: Lead down, Lead across, Lead up.

Oleh: Okti

"Teman-teman, kita akan rapat koordinator pkl. 11.00, ya," begitu biasanya Evie mengingatkan kami untuk mentoring melalui telegram. Dulu, saat awal-awal menjadi staf YLSA, saya selalu deg-degan saat ikut mentoring. Maklumlah, masih newbie, alias orang baru. Masih tidak pede, takut salah, dan jaim saat menyampaikan laporan. Kok? Soalnya, ikut mentoring itu berarti masuk Ring 1, alias masuk zona "berbahaya", karena berarti akan sering ditegur dan dimarahi pimpinan jika melakukan kesalahan, sesuatu yang tidak akan sering dialami staf lain yang bukan koordinator. Bahkan, sampai tahun keempat pun, rasanya saya masih deg-degan saat ikut mentoring.

Gimana sih mentoring di YLSA?

Seingat saya, paling tidak selama tujuh tahun saya ada di YLSA, mentoring koordinator mengalami beberapa kali perubahan metode bermentoring seiring dengan perubahan kondisi di kantor. Dulu, mentoring dilakukan per divisi. Jadi, tiap koordinator divisi bersama sekretarisnya akan duduk melaporkan hasil kerja divisinya kepada pimpinan dan HRD. Saya, waktu itu berperan sebagai sekretaris Divisi Publikasi, dengan tugas membuat notulen mentoring yang kemudian dikirim ke milis kantor supaya bisa dibaca oleh staf yang lain. Ketika Divisi Publikasi dan Divisi Komunitas digabung, mentoringnya jadi digabung juga. Sementara divisi lain, seperti ITS, Web, PESTA, mentoring secara terpisah, tetapi Divisi HRD, Keuangan, dan Administrasi digabung bersama.

Semakin ke sini, dengan semakin banyaknya tugas dan kesibukan di YLSA, supaya bisa efektif, sekaligus untuk menghemat waktu, mentoring semua divisi digabung menjadi satu. Kita duduk bareng untuk saling melaporkan dan mendiskusikan isu-isu pekerjaan. Hal ini cukup menguntungkan karena setiap koordinator (pimpinan divisi) bisa saling memahami isu dari divisi lain dan kendala miskomunikasi bisa lebih terkendali. Sampai sekarang, meski sudah mengalami restrukturisasi beberapa kali, metode mentoring semacam itulah yang kami pakai.

Apa tujuan mentoring di YLSA?

Pertama, untuk saling melaporkan hasil pekerjaan masing-masing divisi. Kedua, sebagai cara untuk mengevaluasi kinerja staf, proyek, atau kegiatan yang dilakukan. Ketiga, menjadi ruang bagi pimpinan untuk menyampaikan rencana/strategi, mendiskusikan permasalahan/perkembangan, atau menginformasikan hal-hal baru yang perlu dipikirkan bersama kepada dan oleh koordinator. Keempat, sebagai salah satu cara mempraktikkan prinsip kepemimpinan yang lead down, lead across, dan lead up.

Poin yang terakhir itu saya pikir sangat penting bagi para koordinator, yang notabene menjadi second layer pimpinan dalam struktur pelayanan YLSA. Melalui proses lead down, lead across, dan lead up itu sesungguhnya kami semua belajar bersama dan berproses bareng dalam memimpin. Selain itu, ada juga banyak transfer ilmu, visi, dan pengalaman dari pimpinan yang sangat berguna untuk diterapkan dalam menjalankan pelayanan, yang tidak bisa kami dapatkan melalui cara lain.

Nah, sekarang, setelah tujuh tahun, apakah saya masih deg-degan setelah mengikuti puluhan mentoring?

Sudah tidak dong. Ikut mentoring sekarang tidak lagi berasa scary atau frightening, soalnya seperti kata anak sekarang, sudah biasa akunya tuh, .... :-)

Kontak Kami